Indonesia

Pembaca Yang budiman. Marilah  kita cobalah mencermati  Negara Kesatuan Indonesia ini. Bangsa Indonesia sepantasnya sangat bersyukur dan hendaknya dengan cara mensikapi perilakunya terhadap Bumi Nusantara Indonesia dan segala isinya dengan cara cara yang cerdas rohani, cerdas akhlak dan sikap ikhlas, tulus dalam berbuat dan  bermasyarakat agar kehidupan di alam  Indonesia senantiasa bersahabat.

Generasi Muda pencinta kekayaan alam Indonesia, Aneka Satwa

Alangkah Indahnya Alam dan Satwa Indonesia bila dikelola dengan Cerdas

Adalah sangat pantas  bila sebagai bangsa Indonesia, dengan  semua penduduknya, bisa menjadi bangsa yang makmur dan senantiasa bersyukur, karena sangat banyak sekali nikmat Tuhan terbentang di bumi Nusantara Indonesia. Semua serba ada dan sekaligus menjadi titipan semua generasi dan tantangan atau ujian untuk bertindak, berperilaku  bagi anak bangsa dalam mensikapi bumi Nusantara Indonesia yang Indah ini. Lihatlah,

  • Pertama, Posisi dan Lokasi  Indonesia,   di sekitar khatulistiwa, yang merupakan posisi yang sangat indah dari anugerah Tuhan Yang Maha Besar. Cuaca disekitar khatulistiwa tidak mengenal musim yang ekstrim seperti empat musim di negara yang di belahan bumi utara atau selatan. Ada hujan ada panas, ada angin dan pergantian musim yang relatif sangat baik untuk berbagai kegiatan dan kehidupan. Tidak ada yang serba ekstrim, kecuali dampak kerusakan oleh tingkah manusianya.
  • Kedua, di Permukaan Bumi Nusantara, Kekayaan alam, berupa mudahnya tumbuh berbagai jenis tanaman adalah kenikmatan lain yang pantas disyukuri serta dijadikan sumber potensi pembangunan. Berbagai jenis tanaman bisa tumbuh, maka kewajiban mengelola keseimbangan, menjadi mandatori sebagai tanda syukur dan cerdas dalam mengelola permukaan alam bumi Nusantara Indonesia.
  • Ketiga, Lautan, bahagian dari Lingkungan kepulauan Nusantara, penuh dengan lautan yang kaya akan sumber alam terbaharui. Berbagai potensi kelautan tersedia, bilamana dikelola dengan baik,sebagai bahagian rasa syukur sehingga lingkungan  yang dikelola, di eksploitasi tetap berimbang dengan kemampuan “self  recovery” nya (perbaikan) kembali. Apa lagi bila dikelola dengan cara yang cerdas dan akrab lingkungan.
  • Keempat, Kandungan bumi Nusantara penuh dengan simpanan yang berharga. Kandungan Gas dan Minyak Bumi, Energy Geothermal, Batubara, Logam bahan industri dan Mineral, pasir besi, kapur, nickel, timah, tembaga, emas, dan lain sebagainya, serta  Air bersih yang berlimpah.
  • Kelima, Alam Pegunungan, rangkaian gunung berapi yang melintang dari Sumatra, dari Aceh ke selatan, ke pulau jawa terus  ke kepulauan di selatan, naik ke utara sampai kembali ke Sulawesi, Pilipina dan terus menyisir pantau timur Benua Asia. Alam yang indah, memberikan variasi tumbuhan berbeda disetiap ketinggian, dan sebagian menghasilkan energi geothermal, walau   kadang kala Tuhan menghendaki adanya gejolak untuk perbaharuan kesuburan dan lapisan serta kandungannya. Semua memerlukan pemahaman dan mensikapi secara bijak dna tepat.

    Bali itu indah

    Bali itu indah

  • Keenam. Kepulauan Nusantara yang tersebar dari timur ke barat, dari Sabang sampai ke Papua.  Sebaran kepulauan dan penduduknya melahirkan kekayaan budaya tradisional berbeda corak, berbagai ragam, memberikan corak yang menarik.  Hampir setiap kepulauan memiliki kekhususan tersendiri, baik alam pantainya, corak budayanya, bahasa serta makanan tradisional nya.  Perlu dikelola dan dilestarikan secara tepat. Dikhawatirkan tergerus oleh zaman dan internalisasi budaya lain yang lebih dominan akabat era globalisasi informasi. Sebaliknya Perlu dikembangkan, karena kekuatan ini akan mampu menjadi “daya tarik” bagi pengunjung domestik maupun turis mancanegara.
  • Ketujuh. Kekayaan Jumlah Penduduk dan Aneka Ragam Suku dan Budaya Nusantara. Tuhan menganugerahkan kekayaan akan jumlah penduduk, keanekaan ragam suku dan budaya lokal yang menjadi kekuatan, keindahan, potensi Nasional bila dikelola dengan cermat dan baik. Karenanya diperlukan prioritas pembangunan manusianya, jiwanya yang cerdas akhlak, cerdas norma, diberi dasar pendidikan norma agama yang kuat yang akan melahirkan dimensi etika dan akhlak Bangsa yang membanggakan, bukan sebaliknya. Pembangunan Manusianya yang Berbasis  Norma yang kuat, akhlak mulia yang berbasis agama, kemudian diisi ilmu, sains dan teknologi  yang kuat, akan menjadi bangsa yang kuat, Bangsa yang cerdas norma dengan akhlak yang mulia.  Kekuatan ini akan melahirkan hasil perencanaan dan hasil pelaksanaan pembangunan indah dan menyejukkan. Pembangunan phisik diawali dari manusia yang cerdas dan mulia akhlak, bukan oleh ilmuwan yang berakhlak liar tidak teruji yang sulit dikendalikan.  Bersamaan dengan ini, untuk keragaman terapan tata hidup bermasyarakat, kemudian disusun, disempurnakan norma hukum sebagai pemersatu peraturan berbangsa dan bernegara.  Dalam hal jumlah penduduk, untuk kesehatan dan mengimbangi kesesuaian fasilitas, perlu dilakukan perencanaan dan kelahiran yang tertata baik. Tuhan memberikan jaminan untuk kehidupan setiap insani. Hal ini terbukti. Dulu panen per satuan luas area, saat ini dengan teknologi yang lebih baik, bisa diperoleh hasil yang lebih banyak.
  • Kedelapan. Nikmat Iman dan Agama.  Sebagai bangsa yang telah menerima ajaran agama sejak kakek dan nenek moyang, tata nilai dan norma aturan  masyarakat di Indonesia sebenarnya sudah sangat baik. Kalaupun terjadi degradasi, kebanyakan akibat pertambahan jumlah penduduk yang tidak berimbang dengan kekuatan pendidikan norma dan agama, serta intervensi budaya lintas daerah dan global akibat makin menonjol nya tuntutan akan kebutuhan materialistik dibanding pembinaan rohani dan norma. Oleh karenanya harus dikembalikan agar kekuatan prioritas pendidikan akhlak, dan norma berbasis agama, menjadi dasar pertumbuhan kejiwaan anak bangsa, dan terbaik di usia 0 – 10 tahun. Tata nila Benar dan Salah, Bagus dan tidak bagus, Indah dan tidak indah dalam tata norma, etika dan akhlak dalam masyarakat perlu berbasis norma agama dan akhlak bangsa. Banyak negara maju lainnya memiliki ketertiban hukum dan kehidupan yang tampaknya indah dan baik. Namun kering dari akhlak berbasis hakikat kemanusiaan, seperti mudahnya hidup sesama jenis atau berlainan jenis tanpa ikatan perkawinan, mudahnya menggugurkan kandungan, dan prilaku seksual yang sangat ditentang agama. Secara global, mudah melakukan intervensi karena kebutuhan materi dan kepentingan bangsanya tanpa menyelami hakikat kemanusiaan bangsa lain, walau dengan atribut politik yang di isu kan nya sendiri untuk mencari pembenaran.  Oleh karenanya, norma Bangsa Indonesia yang berbasis agama, perlu dilestarikan. Kebenaran dalam akhlak dan norma bermasyarakat,  dan berbangsa hendaknya berbasis ajaran agama dan bukan philosofi bebas (karya hasil fikir bebas yang bisa mengarah kepada ateis atau dibatasi kemampuan otak manusia di zamannya). Pola pendidikan demikian harus dikembangkan terus  sebagai landasan akhlak manusia tentang Ilmu, sains dan teknologi pembangunan bagi bangsa Indonesia kedepan.

Demi Waktu,  Sesungguhnya Manusia itu Senantiasa merugi, Kecuali ……… (Bagi kita senantiasa Berbuat Baik dan Bermanfaat Bagi Bangsa ini, sekecil apapun untuk mencari redho Allah SWT. Amin)

Salam,

Penulis.

Syo.

1 Comment

Leave a Reply